Pendidikan

Kisah Guru di Perbatasan, Mandi di Sungai dalam Ancaman Buaya

Kisah Guru di Perbatasan, Mandi di Sungai dalam Ancaman Buaya

admin | Kamis, 28 November 2019 - 07:32:01 WIB | dibaca: 1772 pembaca

Merdeka.com - Terbiasa di kota dengan berbagai kemudahan, tak lantas membuat Veraningsih, gadis 26 tahun asal Tipes, Serengan, Surakarta ini gentar merasakan kehidupan di pedalaman. Bersama masyarakat suku Dayak, Desa Sekikilan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara Vera bertekad mengabdikan ilmunya untuk masyarakat yang membutuhkan.

Di daerah perbatasan dengan Malaysia tersebut, Vera bertekad mengabdikan dirinya untuk bangsa Indonesia. Ia mengikuti program Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Alumni Pendidikan Sosiologi-Antropologi Universitas Sebelas Maret (UNS) angkatan 2011 ini, terpilih dari 9.832 kandidat dan menjadi salah satu dari 40 Pengajar Muda Angkatan XIII.

Hidup setahun di daerah yang serba terbatas, menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Selain penuh kejutan, tak sedikit kejadian menarik yang dialami. Di antaranya Vera harus mandi dan mencuci pakaian di sungai yang dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

"Setiap hari saya harus mandi dan mencuci baju di sungai. Padahal di sungai itu ada buaya keramat yang bisa saja memangsa kita," ujar Vera kepada merdeka.com, Selasa (25/11).

Meski takut, namun ia bersyukur bisa menjalani pengalaman mendebarkan tersebut. Menurut Vera, masyarakat Dayak percaya siapapun yang beraktivitas di sungai tidak boleh menyebutkan nama makanan apapun. Jika aturan itu dilanggar, buaya di sungai tersebut akan memangsa orang tersebut.

Tak hanya itu, untuk pergi ke kebun sayur, Vera harus menyeberang sungai dengan naik ketinting. Perahu kecil yang biasa digunakan untuk memancing. atau mencari sayur. Setelah itu, ia dan masyarakat setempat baru bisa memetik sayur yang dibutuhkan untuk dikonsumsi.

"Kalau di Solo mau masak tinggal pergi ke pasar atau swalayan. Kita tinggal membeli sayur dan bahan makanan lainnya. Di sana, harus naik perahu kecil dulu," katanya.

Vera menyebut, cerita tersebut baru sebagian kecil kisah yang ia alami di sana. Masih banyak pengalaman menarik yang tidak bisa diceritakan satu per satu. Vera memutuskan merantau ke Tanah Borneo yang jauh dari fasilitas perkotaan untuk mengajar di Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.

Saat itu ia ditugaskan mengajar selama setahun penuh di SDN 003 Tulin Onsoi Desa Sekikilan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Di lokasi tersebut ia jarang menjumpai air bersih dan signal handphone. Padahal dua-duanya sangat penting dan dibutuhkan manusia saat ini.

"Tapi saya sangat senang bisa mengabdi di sana. Saya ingin melihat anak-anak di sana bisa menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya di tapal batas utara Indonesia-Malaysia. And I did it," katanya.

Vera mengaku mengikuti kegiatan tersebut atas keinginan dan inisiatif sendiri. Dirinya terlibat secara aktif dalam pengabdian ini. Vera tak hanya ditugaskan menjadi seorang guru di pedalaman.

"Saya juga diberi mandat sebagai fasilitator pengembangan kualitas pendidikan di tingkat Kabupaten Nunukan. Jadi tidak hanya mengajar saja," kenangnya.

Ia mengakui, bukanlah hal yang mudah menjalankan tugas mulia tersebut. Belajar di tengah keterbatasan menjadi tantangan tersendiri bagi Vera. Ia ingin mengembangkan potensi anak-anak di sana. Meski dengan fasilitas sekolah yang serba minim. Mereka juga berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar yang sama.

"Justru mereka ini memiliki kecerdasan alam yang menakjubkan. Kecerdasan alam ini yang saya manfaatkan untuk mengembangkan potensi mereka," ucapnya.

Gadis yang hobi bermain bulutangkis ini sering mengajak anak-anak didiknya pergi ke sungai dan ke hutan untuk belajar sembari menikmati alam. Selain kepada siswa, Vera juga mendorong dan memotivasi guru-guru lain untuk mempersiapkan anak-anak mengikuti ajang kompetensi di tingkat kecamatan.

"Mereka berhasil mendapat juara 3 setelah 5 tahun berturut-turut sekolah tidak mendapat penghargaan prestasi apapun. Ini jadi kebanggaan tersendiri buat aku,' katanya lagi.

Bukan tanpa kendala, hidup di pedalaman sering kali membuat Vera pesimis. Mulai dari kurangnya jumlah guru, fasilitas serba minim, bahasa lokal yang sulit dimengerti, budaya yang sangat berbeda, dan masih banyak lagi tantangan lain. Tak jarang membuat Vera patah semangat dalam menjalani pengabdian.

"Tapi kalau kita mampu mengapresiasi hal kecil, niscaya akan membuat kita lebih bersyukur dan semangat untuk membawa perubahan positif di daerah," jelasnya lagi.

Selain itu, kendala lainnya, adalah perbedaan budaya, bahasa, dan kebiasaan. Dalam kurun waktu tiga bulan, Vera mempelajari keragaman masyarakat lokal di sana. Ia mampu menguasai Bahasa Dayak, bahasa yang sehari-hari digunakan masyarakat setempat.

Sejak saat itu, masyarakat Dayak perlahan mulai terbuka dengan kehadiran Vera. Ditambah lagi, Vera tinggal serumah dengan keluarga asli Dayak yang mengangkat dirinya layaknya anak sendiri.

Selama setahun mengabdi, Vera juga mendorong masyarakat untuk membangun Taman Baca Masyarakat di Desa Sekikilan. Dengan harapan masyarakat setempat nantinya menjadi gemar membaca.

Mengabdi dan membangun daerah selama setahun bukanlah keputusan yang mudah bagi Vera. Berbekal restu orang tua yang sulit dipegang, ia berangkat dengan keyakinan akan memanfaatkan hidupnya dengan menjadi guru di pedalaman.

"So much to do, but so little time. Itu yang jadi prinsipku selama menyelesaikan tugas pengabdian. Aku sadar hidupku akan dipertanggungjawabkan pada Tuhan. Jadi aku ingin memanfaatkan waktu untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat," pungkasnya. [ded]


Video Terkait:










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)